Ilmu Kunci Kesuksesan

06.50 Edit This 0 Comments »
Ilmu Kunci Kesuksesan
oleh: syamsul huda, komunikasi islam

Siapa pun kita, di mana pun kita, sangat mendambakan keluarga yang bahagia, kehidupan yang sentosa dan sejahtera di dunia. Bila kita ditanya, apakah kita ingin menjadi orang yang berhasil, sukses, dan bahagia? Tentunya setiap kita akan menjawab "ya". Karena fitrah manusia merindukan kesuksesan, kebahagiaan, dan keberhasilan.

Pertanyaan bagi kita selanjutnya, jika kita menginginkan kebahagiaan, keberhasilan dan kesuksesan tersebut, lalu apa yang harus kita lakukan? Kunci manakah yang harus kita miliki, agar kehidupan kita yang sekali-kalinya ini bisa menjadi orang yang sukses, bahagia dan berhasil? Jawabannya, ada dalam sabda Rasulullah SAW ini, "Wahai siapa pun yang merindukan kesejahteraan di dunia rumusnya harus dengan ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan kebahagiaan akhirat juga harus dengan ilmu, dan barangsiapa yang ingin dunia akhirat bahagia, maka juga harus dengan ilmu."

Berbahagialah bagi siapapun yang bertambah usia, pekerjaan, anak, kebutuhan, yang senantiasa dibarengi dengan bertambahnya ilmu. Dan selamat menderita, kecewa, bagi siapa saja yang usianya bertambah, kebutuhan bertambah, sementara ilmunya tidak bertambah. Tahukah saudaraku yang budiman, kenapa orang stres, kecewa, panik? Rumus kalau orang yang kecewa, panik, stres, jikalau dalam hidup ini masalah yang dihadapi lebih besar daripada ilmu yang dimiliki. Itulah awal pertama orang akan stres, sengsara, dan menderita.
Membaca adalah pintu gerbang ilmu. Sementara, mari kita tanya diri kita, berapa halamankah kita punya target setiap bulannya. Padahal kalau kita ingin maju, maka kita harus tahu informasi yang terkini. Bahkan Rasulullah SAW menyemangati untuk mencari ilmu. "Mencari ilmu itu wajib bagi muslim laki-laki dan perempuan," sabda Rasulullah.

Mari kita contoh betapa dunia ini mudah bagi orang-orang yang berilmu. Seorang dokter memeriksa pasiennya menggunakan baterei kecil, stetoskop, atau ballpoint dengan waktu sekitar lima menit. Ketika ditanya berapa biayanya, dokter itu menjawab 75 ribu rupiah. Dan kita juga setuju bahkan tidak pernah menawar kepada sang dokter. Bandingkan penghasilannya dengan saudara-saudara kita di kampung yang mencangkul dari pagi hingga sore. Perkiraan sekarang 20 ribu rupiah dengan serantang nasi. Apa yang membedakan? Tentu kita sepakat, itu karena ilmu. Dokter harus mencari ilmunya lama bertahun-tahun. Harus rajin, ulet, pandai, hapal. Sedangkan mencangkul, terkadang sehari berlatih besoknya sudah bisa.

Oleh karena itu, berbahagialah orang yang hidupnya senantiasa bersemangat mencari ilmu, menambah dirinya dengan ilmu. Ilmu tidak hanya didapatkan di bangku sekolah, di bangku kuliah. Di mana pun jika kita menjadikan momen sebagai ilmu dan mengaplikasikannya, insya Allah ilmu kita akan terus bertambah.

seorang ulama pernah mengatakan bahwa apabila ingin mengetahui surganya dunia, maka berkunjunglah ke majelis ilmu. Di situ tempatnya Allah menyukai hamba-hamba-Nya yang sedang berhimpun Oleh karenanya, marilah kita belajar dari salah satu kunci kesuksesan, yakni dengan ilmu. Jika ingin menjadi pedagang yang sukses, pendidik yang teladan, atau pemimpin yang berhasil, maka kuncinya dengan ilmu. Tetaplah bersemangat dan memotivasi diri agar menjadi orang yang cinta ilmu, yang berprinsip bahwa tiada hari kecuali harus bertambah ilmu. Wallahu a'lam. [BKS-14]

Ilmu Lebih Baik Daripada Harta
Keutamaan ilmu atas harta dapat diketahui dari beberapa segi: Pertama: Ilmu adalah warisan para Nabi, sedangkan harta adalah warisan para raja dan orang-orang kaya. Kedua: Ilmu akan menjaga pemiliknya, sedangkan pemilik harta menjaga hartanya. Ketiga: Ilmu adalah penguasa atas harta, sedangkan harta tidak berkuasa atas ilmu. Keempat: Harta akan habis dengan dibelanjakan, sedangkan ilmu akan bertambah jika diajarkan. Kelima: Apabila meninggal dunia, pemilik harta akan berpisah dengan hartanya, sedangkan ilmu akan masuk bersamanya ke dalam kubur. Keenam: Harta dapat diperoleh orang-orang mukmin maupun kafir, orang baik maupun orang jahat. Sedangkan ilmu yang bermanfaat hanya dapat diperoleh orang-orang yang beriman
Orang Yang Berilmu Akan Allah Angkat Derajatnya

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al-Qur-an beberapa kaum dan Allah pun merendahkan beberapa kaum dengannya.” . Di zaman dahulu ada seseorang yang lehernya cacat, dan ia selalu menjadi bahan ejekan dan tertawaan. Kemudian ibunya berkata kepadanya, “Hendaklah engkau menuntut ilmu, niscaya Allah akan mengangkat derajatmu.” Sejak itulah, orang itu belajar ilmu syar’i hingga ia menjadi orang alim, sehingga ia diangkat menjadi Qadhi (Hakim) di Makkah selama 20 (dua puluh) tahun. Apabila ada orang yang berperkara duduk di hadapannya, maka gemetarlah tubuhnya hingga ia berdiri. Orang yang berilmu dan mengamalkannya, maka kedudukannya akan diangkat oleh Allah di dunia dan akan dinaikkan derajatnya di akhirat. Allah pun telah berfirman tentang Nabi Yusuf ‘alaihis salaam. “...Kami angkat derajat orang yang Kami kehendaki, dan diatas setiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui.” . Disebutkan bahwa tafsir ayat di atas adalah bahwasanya Kami (Allah) mengangkat derajat siapa saja yang Kami kehendaki dengan sebab ilmu.

Tanda-Tanda Ilmu Yang Bermanfaat
Orang yang bermanfaat ilmunya tidak peduli terhadap keadaan dan kedudukan dirinya serta hati mereka membenci pujian dari manusia, tidak menganggap dirinya suci, dan tidak sombong terhadap orang lain dengan ilmu yang dimilikinya.. Pemilik ilmu yang bermanfaat, apabila ilmunya bertambah, bertambah pula sikap tawadhu’, rasa takut, kehinaan, dan ketundukannya di hadapan Allah Ta’ala.


Pengertian Ilmu Yang Bermanfaat
orang alim yang mengamalkan ilmunya dan mengajarkannya. Orang ini seperti tanah subur yang menyerap air sehingga dapat memberi manfaat bagi dirinya, kemudian tanah tersebut dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan sehingga dapat memberi manfaat bagi yang lain. Di antara mereka ada juga orang yang menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu namun dia tidak mengamalkannya, akan tetapi dia mengajarkannya untuk orang lain. Maka, dia bagaikan tanah yang tergenangi air sehingga manusia dapat memanfaatkannya.

0 komentar: