PSIKOLOGI KOMUNIKASI MASSA

06.45 Edit This 0 Comments »
OLEH: SYAMSUL HUDA, KOMUNIKASI ISLAM

PSIKOLOGI KOMUNIKASI MASSA

Latar Belakang
Komunikasi massa telah mencapai suatu tingkat dimana komunikasi massa disini diartikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, hiterogen, dan anonim melalui media cetak maupun media elektronik, sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat.
Memang media komunikasi modern sekarang sudah tak terhitung jumlah, ragam, dan luasnya jangkauan kemampuannya, itu sudah menjadi bagian dari hidup kita. Di tempat-tempat kesendirian kita, dikamar kita, di pelosok-pelosok desa terpencil sekalipun, media komunikasi banyak tersedia.
Ada dua sisi tentang media komunikasi massa. Yang pertama media melihat ke arah masyarakat dan lembaga-lembaga kemasyarakatan, sedangkan yang kedua media lebih melihat ke arah orang secara perorangan dan kelompok.
Media, khususnya media massa tak sekadar mekanisme distribusi informasi yang sederhana. Media dianggap sebagai organisasi sosial yang sangat kompleks di masyarakat karena keterkaitannya dengan fungsi dan struktur serta perubahan masyarakat.

Media Massa
Media massa memang merupakan suatu alat yang berfungsi untuk menyampaikan informasi, saluran pendidikan, hiburan, dan lain sebagainya. Namun media massa juga memberikan efek terhadap khalayak, yang diluar fungsi tersebut.
Efek media massa tidak hanya memengaruhi sikap seseorang, namun juga dapat memengaruhi perilaku, bahkan dalam tataran yang lebih jauh lagi mungkin media massa dapat memengaruhi sistem-sistem sosial maupun sistem budaya masyarakat baik dalam waktu yang pendek maupun dalam waktu yang lama, yang mana dalam hal ini bisa terjadi karena efek dari media massa yang terjadi secara disengaja maupun yang media massa yang diterima oleh masyarakat atau khalayak tanpa disengaja.


Jika kita kaitkan dengan Teori DeFleur dan Ball-Rokeach

Titik sentral dari teori atau pendekatan ini adalah adanya audiens yang bergantung kepada informasi media untuk menemukan kebutuhan-kebutuhan dan mencapai tujuan-tujuannya. Dengan demikian maka pendekatan ini menurut saya masih konsisten dengan pendekatan model uses and gratifications.
Tidak semuanya cocok memang jika dikaitkan pada kondisi masyarakat di jaman sekarang, terutama di Indonesia. Juga tidak semua aspek informasi sajian dari media massa yang sanggup mempengaruhi secara kuat sehingga audiens menjadi tergantung kepada media dimaksud. Dikaitkan dengan usia seseorang, misalnya, kekuatan media juga semakin berkurang. Hal ini bisa dilihat dari semakin kurangnya kelompok usia lanjut yang membaca dan meninton tayangan televisi. Bahkan beberapa orang tertentu di desa-desa, meskipun ada televisi di rumahnya, para orang tua tidak tertarik untuk menontonnya.
Hal-hal yang sedikit bisa diterima adalah, seperti yang terkadang kita rasakan, bahwa jika sehari saja kita tidak membaca surat kabar, atau buku, atau bahan bacaan lain yang menjadi kebiasaannya, terasa ada yang hilang. Demikian pula jika di rumah kita tiba-tiba aliran listrik mati, padahal kita sedang menonton acara televisi kegemarannya. Atau kita senentiasa mementingkan untuk menonton acara-acara televisi yang menyajikan informasi aktual untuk bahan pengayaan kita. Tanpa menonton televisi sehari saja terasa ada yang hilang.
Ada beberapa keterbatasan atau kelemahan dari teori uses and gratifications ini, antara antara lain sebagai berikut: Pendekatan ini kurang mempunyai pertalian dengan teori-teori sebelumnya. Hal ini karena model ini merupakan lompatan dramatis dari model jarum hipodermik, Teori ini terlalu berorientasi kepada media yang fungsional sehingga mengabaikan disfungsionalnya media dalam masyarakat dan kebudayaannya, media selanjutnya selalu dianggap mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan individu secara positif, sehingga mengabaikan dampak- dampak negatifnya


KOMUNIKASI MASSA
A. Pendahuluan
Komunikasi massa telah mencapai suatu tingkat dimana komunikasi massa disini diartikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, hiterogen, dan anonim melalui media cetak maupun media elektronik, sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat. Tentu disini akan terkait dengan media-media yang digunakan untuk menyampaikan pesan tersebut.
Memang media komunikasi modern sekarang sudah tak terhitung jumlah, ragam, dan luasnya jangkauan kemampuannya, itu sudah menjadi bagian dari hidup kita. Di tempat-tempat kesendirian kita, di pelosok-pelosok desa terpencil sekalipun, media komunikasi banyak tersedia.
Ada dua sisi tentang media komunikasi massa. Yang pertama media melihat ke arah masyarakat dan lembaga-lembaga kemasyarakatan, sedangkan yang kedua media lebih melihat ke arah orang secara perorangan dan kelompok.
B. Media Massa
Media, khususnya media massa tak sekadar mekanisme distribusi informasi yang sederhana. Media dianggap sebagai organisasi sosial yang sangat kompleks di masyarakat karena keterkaitannya dengan fungsi dan struktur serta perubahan masyarakat.
Media massa memang merupakan suatu alat yang berfungsi untuk menyampaikan informasi, saluran pendidikan, hiburan, dan lain sebagainya. Namun media massa juga memberikan efek terhadap khalayak, yang diluar fungsi tersebut.
Efek media massa tidak hanya memengaruhi sikap seseorang, namun juga dapat memengaruhi perilaku, bahkan dalam tataran yang lebih jauh lagi mungkin media massa dapat memengaruhi sistem-sistem sosial maupun sistem budaya masyarakat baik dalam waktu yang pendek maupun dalam waktu yang lama, yang mana dalam hal ini bisa terjadi karena efek dari media massa yang terjadi secara disengaja maupun yang media massa yang diterima oleh masyarakat atau khalayak tanpa disengaja.
Ada lima pendekatan fungsional terhadap penggunaan media massa seperti ditunjukkan oleh teori ini menurut Harold Laswell dan Charles Wright, tahun 1948 dan 1960. Banyak fungsi media terhadap kehidupan sosial kita. Para ahli terutama pengusung teori ini dan para pendukungnya, mengemukakan lima unsur yang secara bersama-sama menjelaskan fungsi penggunaan media oleh masyarakat, yakni: surveillance (pengawasan, pengamatan), correlation, transmisi budaya, intertainment (hiburan), dan mobilization (pengerahan kekuatan). Surveillance maksudnya adalah bahwa media menyediakan dan memberikan berita dan informasi kepada masyarakat. Correlation maksudnya adalah bahwa media menyediakan informasi dan berita kepada kita setelah mereka mengadakan seleksi, interpretasi, dan evaluasi kritis terhadap semua aspek yang mungkin akan muncul. Transmisi budaya maksudnya adalah bahwa media berfungsi sebagai refleksi dari kepercayaan, nilai-nilai, dan norma-norma kita dan orang lain di tempat lain yang mengusung media. Selain itu media juga berfungsi sebagai hiburan di saat waktu sedang senggang, atau bisa jadi sebagai tempat pelarian seseorang yang mengalami masalah tertentu. Dan media massa berfungsi sebagai alat mobilisasi masyarakat untuk melakukan tindakan tertentu, terutama pada saat-saat krisis.
Masyarakat pun secara bebas bisa menggunakan media (apa saja) untuk keperluan yang juga berbeda-beda satu sama lain. Selain itu, dilihat dari fungsi media itu sendiri, tetap akan dipengaruhi oleh aspek ruang dan waktu. Fungsi media dulu dan sekarang tentu berbeda, juga pengguna dari media tersebut yang sudah pasti berbeda pula. Terakhir, fungsi media juga bergeser manakala dihadapkan kepada masalah pengorganisasian kekuatannya. Orang media mengetahui bahwa masyarakat membutuhkan sesuatu dan orang media mencoba memenuhinya melalui penyesuaian-penyesuaian terhadap isi media yang bersangkutan. Untuk yang terakhir ini fungsi media sudah diubah menjadi alat untuk melakukan atau mencapai tujuan-tujuan tertentu.
Di dunia kelembagaan informasi termasuk perpustakaan, media massa juga diolah secara
berbeda dibandingkan dengan jenis media lainnya, namun dengan tujuan yang relatif sama, yakni
untuk pemanfaatan seluas-luasnya oleh masyarakat.

B. Teori DeFleur dan Ball-Rokeach
DeFleur dan Ball-Rokeach menyatakan pertemuan khalayak dengan media berdasarkan tiga kerangka teoritis yaitu perspektif perbedaan individual, perspektif kategori sosial, dan perspektif hubungan sosial
Perspektif perbedaan individual memandang bahwa sikap dan organisasi personal psikologis individu akan menentukan bagaimana individu memilih stimuli dari lingkungan, dan bagaimana dia memberikan makna pada stimuli tersebut. Perspektif kategori sosial berasumsi bahwa dalam masyarakat terdapat kelompok-kelompok sosial, yang reaksinya pada stimuli tertentu cenderung sama. Sedangkan perspektif hubungan sosial menentukan pentingnya peranan hubungan sosial yang informal dalam mempengaruhi reaksi orang terhadap media massa.
Titik sentral dari teori atau pendekatan ini adalah adanya audiens yang bergantung kepada informasi media untuk menemukan kebutuhan-kebutuhan dan mencapai tujuan-tujuannya.
Dengan demikian maka pendekatan ini menurut saya masih konsisten dengan pendekatan model uses and gratifications.

0 komentar: